Warga Inggris resmi ajukan banding kasus narkoba

Image caption Lindsay Sandiford ditangkap karena membawa 4,7 kilogram kokain. Lindsay Sandiford, warga negara Inggris, yang divonis hukuman mati di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, dalam kasus penyelundupan 4,7 kilogram kokain, resmi mengajukan banding, Senin (11/02). “Saya selaku kuasa hukum Lindsay June Sandiford, telah menyerahkan memori banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar melalui Pengadilan Negeri Denpasar,” kata kuasa hukumnya, Fadillah Agus, melalui siaran persnya. Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar telah menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Lindsay, Selasa (22/01) lalu, karena bersalah memasukkan 4,7 kilogram kokain ke Bali. Putusan ini lebih berat dari tuntutan jaksa yaitu agar yang bersangkutan dihukum penjara 15 tahun penjara dan denda Rp2 miliar. Tidak wajar Dalam memori bandingnya, Lindsay mengakui melakukan kejahatan narkoba dan mengaku menyesal. Namun demikian, dia menganggap vonis mati terhadap dirinya “tidak proporsional, tidak wajar dan tidak menemuhi rasa keadilan”. Usai vonis itu dijatuhkan, Pejabat Kantor Luar Negeri Hugo Swire mengatakan, pemerintah Inggris keberatan dan akan memanfaatkan opsi banding yang terbuka untuk Lindsay Sandiford. Lindsay Sandiford, perempuan berusia 56 tahun dari Gloucestershire, Inggris barat daya, ditangkap aparat di Bandar Udara Ngurah Rai pada Mei 2012 setelah ditemukan membawa 4,7 kilogram kokain dalam penerbangan dari Thailand. Diperkirakan kokain tersebut, yang termasuk narkotika golongan I, bernilai Rp24 miliar. Berbagi berita ini Tentang berbagi Email Facebook Messenger Messenger Twitter LinkedIn WhatsApp Line div class=”share__back-to-top ghost-column””> Kembali ke atas Berita terkait Warga Inggris menunggu vonis kasus narkoba 29 Januari 2013 Inggris kecam vonis mati atas Lindsay Sandiford 23 Januari 2013 Warga Inggris divonis hukuman mati di Bali 22 Januari 2013 Kolombia akan legalkan ekstasi 30 Januari 2013 BNN: Jaringan Iran ingin produksi di Indonesia 26 Desember 2012 Berita Indonesia lain

Sumber: BBC Indonesia