Liverpool dalam Kisah Robin Hood yang Nyata

bet 88

Hanya dengan mendengar namanya, masyarakat sekitar bergidik setengah mati. Bengal, biadab, bajingan adalah sekumpulan kecil dari katakata yang terlontar untuk mendeskripsikan si penjahat itu. Konon, tidak hanya merampas harta benda rakyat Nottingham, tetapi juga tidak segan-segan membunuh mereka yang berani melawan. Penjahat itu bernama Robin Hood. Robin Hood diyakini hidup pada abad pertengahan (Abad 13). Ia hidup sebagai bandit ternama. Merampok adalah kegiatan yang ia lakukan seharihari. Banyak korban tewas karenanya. Dari kaum lanjut usia serta anak-anak tak luput dari sasarannya. Hingga suatu peraturan dari kerajaan setempat yang membuatnya berubah 180 derajat dari penjahat menjadi pahlawan. Peraturan tersebut berisi mengenai hukum hutan atau yang dikenal dengan forest law. Hukum baru tersebut menyebutkan bahwa hutan di Inggris dan segala isinya adalah milik kerajaan, sehingga rakyat tidak bisa mengambil kayu, berburu binatang, atau memetik buah di sekitar hutan tersebut. Lantas timbul kemarahan dan kekecewaan rakyat jelata. Robin Hood lantas terketuk pintu hatinya. Dialah satu-satunya orang yang berani mengambil kayu, berburu hewan, dan memetik buah di hutan tersebut. Tidak hanya itu dia juga berani merampas harta para pegawai kerajaan yang korupsi dan membaginya kepada rakyat jelata. Sekejap dia dicintai oleh rakyat kecil bak pahlawan serta dibenci pejabat kerajaan layaknya durjana. Sama seperti kisah Robin Hood, tepatnya di sebelah tebing timur muara sungai Mersey di bagian barat laut Inggris, terdapat sebuah klub sepak bola historik peraih 5 gelar Liga Champion dan 18 Gelar Liga Inggris yaitu, Liverpool Football Club. Lantas apa kesamaan Robin Hood dengan Liverpool Football Club? Dilihat dari performa Liverpool musim ini di Liga Inggris, Piala Liga, dan FA Cup. Tim besutan Jurgen Klopp menunjuka performa yang inkonsisten. Throw back di awal musim pergelaran Liga Inggris 2016/2017 ketika Liverpool menjamu tim langganan papan atas, Arsenal. Tidak tanggung-tangung, gawang arsenal yang dijaga kiper kawakan Petr Cech, berhasil di berondong 4 goal dan Liverpool berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor sengit 3-4. Di game ke 2, saat mengunjungi markas tim lemah Burnley. Liverpool tak berdaya dengan taktik anak asuhan Sean Dyche yang menerapkan low defensive line. Liverpool malah dicukur habis 2-0 melawan tim papan bawah tersebut. Gol dari Sam Vokes dan Andre Gray memaksa Liverpool pulang tanpa poin. Beberapa hari setelahnya Liverpool kedatangan tamu juara bertahan Liga Inggris Leicester City. Heran beribu heran, Liverpool malah tampil trengginas dengan membabak belurkan juara bertahan Liga Inggris dengan skor telak 4-1. Setelahnya Liverpool melawan tim kuat lainya, Chelsea di Stamford Bridge. Hampir seluruh bursa taruhan menjagokan Chelsea keluar sebagai pemenang. Tapi Liverpool tampil kesetanan di markas Chelsea. Gol Dejan Lovren dan tendangan “Kapten Tsubasa”-nya Jordan Henderson membuat Chelsea harus menanggung malu kalah di kandang sendiri Periode baik Liverpool harus terhenti ketika memasuki tahun 2017. Bulan Januari merupakan bulan yang harus dilupakan punggawa dan supporterLiverpool. Pasalnya bulan januari, Liverpool melawan tim yang notabene bisa dibilang mudah untuk dikalahkan. Tetapi permainan The Reds(sapaan Liverpool) malah diacak-acak oleh tim penghuni zona degradasi Swansea dan Hull City lewat permainan low defensive line and counter attack.Liverpool dipaksa mengikhlaskan 3 poin mereka di curi tim semenjana seperti Hull dan Swansea City Tidak hanya itu, Liverpool harus terlempar dari Piala FA setalah dipermalukan tim papan tengah Southampton. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Peribahasa tesebut layak dinobatkan kepada Liverpool. Setelah terhempas dari Piala FA, The Redsmalah keokoleh klub championship Inggris, Wolverhampton. Saya sebagai penikmat sepakbola terutama Liga Inggris mencoba untuk menganalisis kenapa Liverpool begitu tangguh lawan tim kuat sementara lawan tim lemah begitu awut-awutan. Ketika melawan tim lemah, lawan-lawan Liverpool cenderung menerapkan strategi bertahan. Melihat lini serang Liverpool seperti Firmino, Coutinho, dan Mane yang mengandalkan kecepatan lari, wajar jika lawan Liverpool (tim lemah) menerapkanlow defensive line dan hanya mengandalkan counter attack. Strategi ini sukses diterapkan oleh Burnley. Mereka membuat penyerang Liverpool frustasi dan memicu bek Liverpool lengah. Lambannya bek-bek Liverpool (Matip, Klavan, Milner) dapat dimanfaatkan dengan counter attackyang cepat. Sebaliknya jika melawan tim kuat, mereka (Arsenal, Spurs, City, Man United, dan Chelsea) akan menyerang sisi pertahanan Liverpool habishabisan dengan penguasaan bola yang maksimal. Dan disinilah letak kesalahan fatal tim kuat. Liverpool selama diasuh oleh Jurgen Klopp selalu mendayagunakan strategi gengen pressing. Gengenpressing yang artinya selalu mengejar bola ke manapun bola bergulir, merusak skema operan lawan, mendapatkan penguasaan bola sesegera mungkin. Setelah itu serang secepat-cepatnya ke jantung pertahanan lawan. Kelima klub papan atas tadi selalu mengutamakan ball possession,sehingga jarak antar pemain akan semakin lebar, termasuk beknya. Fatalnya, jika Liverpool mendapatkan bola, maka bola akan dipassing ke trio penyerang mereka yang memiliki speednomor wahid, barisan defenderyang renggang menjadi santapan maut Firmino, Coutinho, dan Mane. Para pundit football dibuat heran dengan performa Liverpool ini. Lawan tim kuat, mereka tampil cekatan dengan mencuri 3 poin dari tim papan atas. sementara melawan tim lemah, Liverpool dengan santainya memberikan 3 poin yang semestinya diraih dengan mudah. Kisahnya sebelas dua belas dengan Robin Hood. Hari minggu nanti Liverpool menjamu tim lemah Burnley di Anfield. Prediksi kalian?

zhongguomingshi.com bet 88 Sumber: Kompasiana