Oktober, Pendanaan Multifinance Capai Rp 352 Triliun

Jakarta – Data Statistik Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total pendanaan industri pembiayaan (multifinance) yang berasal dari pinjaman bank, subordinasi, surat berharga, dan modal sendiri mencapai Rp 352 triliun pada Oktober 2016. Pendanaan tersebut naik 1,9% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 345,42 triliun. Dari nilai tersebut, pendanaan yang berasal dari obligasi meningkat signifikan mencapai Rp 71,14 triliun atau naik 19,65% secara year on year (yoy) dibandingkan Oktober tahun lalu Rp 59,45 triliun. Meski demikian, berdasarkan kontribusi, pendanaan dari obligasi mencapai 20,2%. Sumber pendanaan paling besar perusahaan pembiayaan masih berasal dari pinjaman lembaga keuangan dalam dan luar negeri, walau mengalami penurunan. Pada Oktober 2016, pinjaman dari lembaga keuangan mencapai Rp 232,34 triliun atau turun 5,6% dari periode Oktober 2015 yang sebesar Rp 246,19 triliun. Dari total pinjaman lembaga keuangan yang berhasil diraih multifinance, sekitar Rp 139,04 triliun berasal dari lembaga keuangan dalam negeri. Sisanya Rp 93,3 triliun berasal dari pendanaan lembaga keuangan luar negeri. Sumber pendanaan lain seperti pinjaman subordinasi, pada Oktober 2016 tercatat Rp 692 miliar, sedangkan modal tercatat sebesar Rp 47,81 triliun. Pelaku industri perusahaan pembiayaan melihat penerbitan obligasi cukup menjanjikan pada tahun ini dan 2017. Namun, pelaku pasar tetap harus mempertimbangkan kondisi pasar sebelum menerbitkan obligasi. “Size kami memang bertambah di obligasi, namun untuk tahun depan kami tetap harus melihat pasar,” kata Head of Treasury and Funding Federal International Finance (FIF) Group Jerry Fandy di Jakarta, belum lama ini. Jerry mengungkapkan, total pendanaan FIF Group mencapai Rp 32 triliun. Dari nilai tersebut, porsi terbesar masih berasal dari pinjaman bersama (joint financing) sekitar 30%, obligasi sekitar 14%, pinjaman bank dalam negeri sebesar 15% dan pinjaman offshore atau luar negeri sebesar 15%. “Sisanya dari modal sendiri,” ujar dia. Tahun depan, komposisi pendanaan perseroan tidak jauh berbeda. Namun memang dari segi jumlah, nilainya akan bertambah karena disesuaikan dengan pembiayaan tahun depan yang ditarget mencapai Rp 35 triliun. Dia mengatakan, untuk obligasi, dari segi kontribusi memang sedikit meningkat menjadi 15%. Nilai obligasi yang akan diterbitkan mencapai Rp 7,5-8 triliun, naik dari plafon tahun ini yang mencapai Rp 7 triliun. Diversifikasi pendanaan ke obligasi memang menjadi pilihan perseroan di tengah besarnya kapasitas FIF Group, sehingga tidak hanya mengandalkan pinjaman perbankan saja. Selain diversifikasi dengan penerbitan obligasi, perseroan menjajaki pinjaman dari luar negeri dalam bentuk sindikasi. Dia mengungkapkan, belum lama ini perseroan menjajaki pinjaman syariah dalam bentuk dolar dengan nilai US$ 100 juta. “Bulan ini rencananya akan ditandatangani,” kata dia. Sementara itu, Direktur Keuangan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) I Dewa Made Susila mengungkapkan, perseroan juga mendiversifikasi sumber pendanaan sehingga bisa menekan biaya dana. Dia menyebutkan, dari total Rp 43 triliun pendanaan, sekitar 41% berasal dari pinjaman bersama dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk; 50% dari pinjaman bank asing, obligasi dan pinjaman bank dalam negeri; serta 9% dari modal sendiri. Made juga menilai perkembangan obligasi korporasi tahun ini cukup menjanjikan. Apalagi, Adira Finance masih memiliki ruang untuk penerbitan obligasi sebesar Rp 2,8 triliun hingga Juni tahun depan dari total obligasi sebesar Rp 8 triliun, dan juga sisa plafon sukuk sebesar Rp 586 miliar dari total Rp 1 triliun. Sementara itu untuk pinjaman sindikasi dari luar negeri, menurut Made, pihaknya masih memiliki sisa plafon sebesar US$ 65 juta dari total pendanaan US$ 225 juta yang sudah diterima. “Dari sisi pendanaan, kami aman sampai akhir tahun,” ungkap dia. Gita Rossiana/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu