OJK: Fundamental Sektor Keuangan Solid

Yogyakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggaransi bahwa seluruh indikator utama sektor keuangan menunjukkan kinerja yang solid dan stabil. Perbaikan terjadi pada aktivitas intermediasi kredit, penghimpunan di pasar modal, dan piutang pembiayaan. Selain itu, risiko kredit dan risiko pasar secara umum dapat dikelola dengan baik dan berada dalam level yang rendah. Ketahanan likuiditas pun kembali meningkat, sehingga membuka ruang bagi penyaluran kredit yang lebih besar. “Intinya, fundamental sektor keuangan dalam kondisi baik dan solid,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dalam focus group discussion di Yogyakarta, Rabu (23/11). Muliaman menyatakan, tingkat kecukupan modal perbankan konsisten di atas 19%, kini bahkan mencapai 22,5%. Kredit per September 2016 tumbuh 6,47% secara year on year (yoy) dan loan to deposit ratio (LDR) membaik ke level 91,7%. Rentabilitas dan efisiensi juga stabil. NIM per September 2016 tercatat 5,65% dan tingkat efisiensi (BOPO) sebesar 81%. Risiko kredit tergolong rendah dengan kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 3,1% dan NPL net 1,37%. Indikator ketahanan likuiditas cukup bagus dengan rasio alat likuid (AL) terhadap non core deposit (NCD) sebesar 82,29% dan rasio AL terhadap dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,08%. Kinerja pasar modal juga tak kalah menarik. Menurut Muliaman, penghimpunan dana di pasar modal meningkat signifikan dibanding rata-rata lima tahun terakhir. Per 1 November 2016 mobilisasi dana tercatat sebesar Rp 148,6 triliun dan terdapat pipeline sebesar Rp 53,4 triliun. Sedangkan rata-rata penghimpunan dana pada periode 2011-2015 hanya Rp 102,5 triliun. Untuk industri asuransi, Muliaman menyebutkan, tingkat kecukupan modal (RBC) sangat memadai. RBC asuransi jiwa tercatat 531% (jauh melebihi batas terendah 180%) dan asuransi umum 269% (batas bawah 150%). Outlook 2017 Muliaman Hadad juga membeberkan proyeksi tahun 2017 terkait ekonomi global, ekonomi domestik, dan juga prospek sektor keuangan. Dia menjelaskan, perekonomian global tahun depan mulai pulih secara gradual meski terdapat downside risk dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang di bawah ekspektasi dan berlanjutnya perlambatan ekonomi Tiongkok. Selain itu, suplai minyak masih berlimpah dan permintaan komoditas primer cenderung stagnan. Ini berdampak pada harga komoditas primer belum meningkat signifikan pada tahun depan. Dari sisi ekonomi domestik, lanjut Muliaman, tahun depan investasi swasta bakal mengambil peran lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya seiring komitmen pemerintah memperbaiki iklim investasi dan ease of doing business. “Investasi swasta masih akan didominasi sektor-sektor produktif yang akan menyerap tenaga kerja secara signifikan,” ujar dia. Beranjak dari optimisme tersebut, OJK memproyeksikan PDB Indonesia tahun depan mencapai 5,2% dan laju inflasi sebesar 4,3%. Fed Funds rate diprediksi mencapai 1,1%. Sedangkan kredit perbankan nasional akan tumbuh 9-11% dan dana pihak ketiga (DPK) bertumbuh 10-12%. Pada kuartal IV-2016, kata Muliaman, pertumbuhan akan lebih cepat dan berdasarkan historis selalu tertinggi dibanding kuartal lain. Menurut dia, bank masih optimistis menggenjot kredit pada kuartal IV karena sejumlah sektor menunjukkan perbaikan, seperti konstruksi, real estat, komoditas, dan kredit komsumsi. “Apalagi selama kuartal I-III banyak dilakukan akad kredit namun belum dicairkan ( undisbursed loan ) mencapai Rp 1.277,5 triliun. Sebagian akan cair pada kuartal IV,” kata Muliaman. Hari Gunarto/THM Investor Daily

Sumber: BeritaSatu