APPI Proyeksikan Pembiayaan Tahun Depan Tumbuh 5%

Jakarta – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memproyeksikan piutang pembiayaan industri pembiayaan (multifinance) tumbuh 5% secara year on year (yoy) pada 2017. Sementara itu, piutang pembiayaan multifinance sampai September 2016 naik 1,79% mencapai Rp 378,20 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 371,55 triliun. Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan, kondisi industri pembiayaan saat ini masih sama dengan perkiraaan asosiasi pada awal tahun. APPI menilai, hingga akhir tahun 2016 ada kemungkinan piutang pembiayaan hanya tumbuh maksimal 1% (yoy). Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat industri perusahaan pembiayaan pesimistis. Pasalnya, pada 2017 Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) telah menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5%. “Kemudian, indikator lain yang membuat kami yakin dapat tumbuh lebih baik tahun depan adalah membaiknya harga-harga komoditas dalam dua bulan terakhir ini. Selain itu, dampak positif dari diversifikasi pembiayaan multifinance yang mulai terlihat,” kata Suwandi yang dihubungi Investor Daily di Jakarta, Jumat (2/12). Dia juga menjelaskan, optimisme APPI juga ditambah oleh hadirnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK Nomor 29/POJK.05/2014 yang mengizinkan multifinance memperluas bisnis di samping pembiayaan konsumer. Seiring dengan perluasan bisnis pembiayaan tersebut, jenis pembiayaan industri turut berkembang. Berdasarkan Statistik Lembaga Pembiayaan Indonesia yang dipublikasi OJK, hingga September 2016, pembiayaan industri multifinance konvensional mencapai Rp 351,20 triliun dan multifinance syariah sebesar Rp 26,99 triliun. Total piutang pembiayaan sebesar Rp 371,55 triliun tersebut terdiri atas pembiayaan investasi sebesar Rp 114,93 triliun, pembiayaan modal kerja Rp 18,34 triliun, dan pembiayaan multiguna Rp 217,94 triliun. Data OJK juga menunjukkan, porsi pembiayaan jual beli berdasarkan prinsip syariah mencapai Rp 26,48 triliun dan pembiayaan jasa berdasarkan prinsip syariah mencapai Rp 513 miliar. Total aset industri perusahaan pembiayaan juga tercatat negatif sebesar 2,19% menjadi Rp 434,52 triliun sampai September 2016, dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 444,27 triliun. Meski demikian, pada Januari-September 2016 industri multifinance masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih 7,15% sebesar Rp 8,99 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 8,39 triliun. “Dengan kondisi saat ini, APPI meyakini total laba bersih masih mampu tumbuh di atas 10% (yoy) pada akhir 2016. Namun perlu diakui, saat ini laba perusahaan multifinance masih banyak ditopang oleh pendapatan operasional dibanding nonoperasional atau fee based income,” ungkap Suwandi. Sementara itu, mengenai prospek pembiayaan tahun depan, Direktur Pemasaran PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo sebelumnya mengatakan perseroan menargetkan pertumbuhan 11% (yoy) atau mencapai Rp 20 triliun. Tahun ini, pihaknya menyakini masih dapat membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 18 triliun. Secara terpisah, Finance Director PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) Zacharia Susantadiredja mengatakan, perseroan membukukan pembiayaan baru sekitar Rp 4,5 triliun sampai Oktober 2016. Namun dengan kondisi saat ini, WOM Finance memperkirakan pertumbuhan pembiayaan tahun ini mungkin akan di bawah target awal yang sebesar Rp 6 triliun. Meski demikian, WOM Finance optimistis tahun depan dapat membukukan pertumbuhan pembiayaan 6-10% (yoy). Sebelumnya, Direktur PT Buana Finance Tbk Herman Lesmana juga menjelaskan, pihaknya menargetkan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 3,5 triliun pada 2017. Sampai akhir 2016, Buana Finance yang 70% portofolio bisnisnya fokus pada pembiayaan alat berat ini kemungkinan mencatatkan new booking Rp 2,5 triliun. Devie Kania/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu